MEDAN - Nama Aseng Kayu kembali mencuat ke permukaan. Ia disebut-sebut sebagai sosok lama yang diduga berada di balik maraknya praktik perjudian di berbagai wilayah Sumatera Utara.
Sejumlah laporan media dan temuan lapangan mengarah pada satu pola yang sama: aktivitas judi jenis tembak ikan, togel, hingga permainan ketangkasan lainnya terus beroperasi tanpa hambatan berarti. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat—siapa yang membekingi?
Berdasarkan berbagai pemberitaan, Aseng Kayu disebut sebagai “pemain lama” dalam jaringan perjudian di Sumut yang telah beroperasi bertahun-tahun. Aktivitasnya bahkan disebut tersebar di sejumlah titik, mulai dari kawasan Marelan hingga Deli Serdang.
Meski berulang kali menjadi sorotan, praktik perjudian tersebut diduga tetap berjalan lancar, bahkan dengan sistem pengamanan yang cukup rapi dan terorganisir.
Yang paling menjadi perhatian adalah adanya dugaan kuat keterlibatan “oknum” dalam membiarkan aktivitas ini tetap hidup. Sejumlah sumber menyebut praktik tersebut seolah kebal hukum, memunculkan indikasi adanya perlindungan dari pihak tertentu.
Tidak hanya itu, laporan lain juga menyebut adanya isu setoran rutin hingga koordinasi dengan pihak tertentu agar bisnis ilegal ini tetap berjalan. Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari aparat penegak hukum terkait dugaan tersebut.
Dalam catatan sebelumnya, sosok yang diduga sama pernah diamankan aparat dalam kasus perjudian, namun proses hukumnya tidak banyak terungkap ke publik secara rinci.
Hal ini justru semakin memperkuat spekulasi publik tentang adanya jaringan besar yang belum sepenuhnya tersentuh.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat. Mahasiswa dan aktivis di Sumatera Utara bahkan mulai menyuarakan aksi protes, mendesak aparat untuk bertindak tegas dan transparan dalam mengusut dugaan jaringan perjudian tersebut.
Pertanyaan inilah yang hingga kini belum terjawab: Siapa sebenarnya yang berada di belakang Aseng Kayu?
Apakah hanya sekadar jaringan bisnis biasa, atau ada kekuatan lain yang membuat aktivitas ini tetap bertahan di tengah penegakan hukum yang seharusnya tegas?
Hingga saat ini, semua masih sebatas dugaan dan indikasi. Publik menanti langkah nyata aparat untuk mengungkap fakta sebenarnya—bukan sekadar isu yang terus berulang tanpa ujung. (Red)
